KOMIK PERENCANAAN KEUANGAN KOMUNITAS

Uncategorized

Community Specialist Article Series,

KOMIK PERENCANAAN KEUANGAN KOMUNITAS  

By Hari ‘Soul’ Putra (0815 1999 4916 – Soul & Community Specialist, CEO Sa’i Center & Praktisi P3K)

“Komik memperlihatkan kekuatan kata – kata dan gambar dengan cara yang sangat efektif. Ini sempurna untuk media edukasi perencanaan keuangan keluarga dan komunitas.”

Begitulah yang diungkapkan Mike Rini, seorang perencana keuangan handal yang ingin memberi pemahaman perencanaan keuangan kepada berbagai kalangan melalui sebuah media yang bisa dicerna, yakni komik.

 

UNSUR KOMIK DALAM PERENCANAAN KEUANGAN KOMUNITAS DAN KELUARGA

Bukan rahasia umum bila banyak orang yang tidak bisa mengelola keuangan mereka selepas gajian. Banyak orang menganggap segala sesuatu yang berbau keuangan akan membuat depresi, dan bikin pusing.

Alasannya, begitu banyak konsep, teori, istilah, hingga rumus yang mesti dipahami dan seterusnya. Padahal, enggak semuanya benar. Karena perencanaan keuangan dapat dilakukan dengan cara – cara yang sederhana tapi efektif.

Selintas pandang, buku dengan Judul: MR Edu; Fresh, Fun and Easy Financial Planning ini hanya seperti komik biasa. Namun ketika Anda sudah membacanya, komik ini penuh dengan edukasi mengenai keuangan keluarga dan komunitas yang dikemas dengan cara simpel sehingga mudah dimengerti.

Menggunakan ikon MR Edu, Mike ingin menyampaikan bahwa memahami keuangan itu sangatlah mudah. Apalagi pengemasannya yang menggunakan komik, yang diselingi dengan banyolan dan bahasa percakapan sehari – hari  membuat si pembaca mudah mengerti untuk mengatur keuangan keluarga dan komunitas mereka.

Pembahasan dalam buku ini pun seputaran masalah keuangan orang – orang sehari – hari dan komunitas. Mulai dari sulitnya menabung, cara mengelola gaji, mencicil KPR, memutuskan dana pendidikan di kala uang pas – pasan, mengelola uang bonus, hingga perlunya pasutri berbicara jujur mengenai keuangan mereka.

So, Jika Anda merasa punya kesulitan merencanakan keuangan keluarga dan komunitas, buku ini bisa menjadi solusi.

 

REVOLUSI KOMIK DALAM PERENCANAAN KEUANGAN KOMUNITAS

Jaman nenek moyang kita dulu, mereka menggambar gua – gua, kuil – kuil dan papyrus untuk menyampaikan cerita. Gambar – gambar simbolik menjadi pengganti kata – kata ketika huruf belum diciptakan. Dari gambar – gambar itulah banyak sejarah peradaban dunia, hikmah dan kebijakan yang sampai kepada kita hingga detik ini. Inilah gagasan awal komik Mr.Edu.

”XCJF%#MA+NIZXKN%7**#@!^$BIGAB@!SCR

WEUTT*ERW#$LM^NIWQO%

PTUDUEZIGGZUUT……………..” begitulah barangkali bunyinya saat kita mencoba memahami keuangan keluarga dan komunitas. Segala sesuatu mengenai keuangan keluarga dan komunitas malah membuat depresi, dan bikin pusing.  Begitu banyak konsep, teori, istilah, rumus yang mesti dipahami. dan seterusnya. Bisa salah kaprah. Tapi kita hampir selalu benar menebak suasana hati seseorang hanya dengan melihat ekspresi wajahnya. Kebanyakan orang juga dipastikan tidak akan melalui jalan yang ada tanda verbodennya kan ? . Makanya jika gambar mampu mewakili ribuan kata – kata, maka komik mungkin dapat menyederhanakan permasalahan keuangan keluarga dan komunitas yang rumit. Komik dapat dijadikan medium dalam memahami perencanaan keuangan keluarga dan komunitas. EUREKA !

Menurut saya komik adalah salah satu medium yang membuat otak kanan dan otak kiri bekerja secara bersamaan. Keduanya saling bertalian menjalin suatu kepaduan antara kata – kata dan gambar. Televisi dan film cenderung menarik kerja otak kanan, menyampaikan pesan tanpa harus mengolahnya. Sementara surat kabar dan majalah menyajikan tampilan linear yang cenderung menarik kerja otak kiri. Hanya komik yang menggabungkan keduanya. Komik menyajikan kepuasan artistik seperti buku bacaan, film dan televisi, juga memperlihatkan kekuatan kata-kata dan gambar dengan cara yang sangat efektif. Ini sempurna untuk media edukasi perencanaan keuangan keluarga dan komunitas.

Komik merespresentasikan salah satu jenis karya seni dengan unsur yang paling beragam yang pernah ada. Artistik, filosofis, dinamis, juga jenaka. Maka dari komik Anda akan mendapatkan segalanya mulai dari hiburan bagi anak – anak, ilmu pengetahuan, sampai kepuasan cita rasa seni tingkat tinggi. Ketika dikerjakan dengan baik, komik menghasilkan penjajaran yang luar biasa antara kata – kata dan gambar dengan cara begitu rupa sehingga pembaca menjadi bagian aktif dari cerita, bukan penerima pasif. Tidak ada pengekangan intelektual dalam komik. Anda bisa menganggapnya sekedar hiburan saja atau menjadikannya sebagai perenungan dalam cara yang tidak pernah Anda lakukan sebelumnya.

Wallahu’alam bissawab

Salam OPTIMASI KOMUNITAS!

Http://www.p3kcheckup.com

Hari ‘Soul’ Putra (Community Specialist-Spesialis Komunitas Indonesia), SEGERA hubungi 0815 1999 4916, Mari kita Optimalkan Wadah KOMUNITAS ANDA

www.p3checkup.wordpress.com & www.spesialiskomunitas.wordpress.com

di FB : petiga kehidupan Twitter : h4r1soulputra 

NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK dan BLOG Anda. Terima Kasih.

Info Buku :

  1. 1.   21 langkah menuju soul entrepreneur sejati, jalan menuju kaya 3 dimensi (Buku pertama dari 3logi P3K), P3K Check Up Publishing, Jakarta
  2. 2.   18 decision for soul theraphy (Seri buku kehidupan), P3K Check Up Publishing, Jakarta
  3. 3.   Komik Perencanaan Keuangan – MR Edu; Fresh, Fun and Easy Financial Planning.  Penulis : Mike Rini Sutikno, CFP. Skrip : Putri Dewi MR.  Penerbit : PT Elex Media Komputindo.  Tebal : 119 halaman.
  4. 4.   Permainan Perencanaan Keuangan – Smart Money Game ; 35 Tips Menjadi Keluarga Sejahtera-Bahagia.  Penulis : Mike Rini Sutikno, CFP. Co-writer : Dodi Mawardi.  Penerbit : PT Elex Media Komputindo.  Tebal : 208 halaman beserta Papan Permainan dan Toolsnya.

 


Informasi produk dan pemesanan buku, komik dan permainan pada Petiga Karir dan bisnis sms center : 0815 1999 4916.

Iklan

Jual Tools Permainan Smart Money Game

Uncategorized

Cari Tools Perencana Keuangan? Hubungi Hari ‘Soul’ Putra (SMS) 0815 1999 4916. Kami memiliki kualitas permainan yang Anda cari, HARGA TERBAIK.

Kami menjual Permainan Perencana Keuangan sebagai berikut :

Harga Kompetitip Rp. 150.000,-
(Tidak termasuk Ongkos Kirim)

Kami juga menjual :

Jual Cergam dan Komik Perencana Keuangan di Banjarmasin.

Petiga Kehidupan Article Series, REZEKI DARI TEMPAT TIDAK TERDUGA

Uncategorized

Petiga Kehidupan Article Series, REZEKI DARI TEMPAT TIDAK TERDUGA

By Hari ‘Soul’ Putra

(Soul Motivator, CEO Sa’i Center & Praktisi P3K)

Seorang tukang memperbaiki tas sedang termenung di tokonya di sudut pasar, terbayang beberapa waktu lalu dia menerima order pembuatan tas dalam skala besar.  Saat itu masa anak – anak masuk sekolah, mereka baru selesai liburan dan menyambut tahun pelajaran baru.  Pagi itu ketika dia dan beberapa temannya sedang mengerjakan pembuatan tas, datang seorang kakek – kakek, meminta tolong memperbaiki tas cucunya yang sedang rusak.  Ketika sang kakek selesai menyampaikan maksudnya, dengan entengnya dia menolak untuk memperbaiki tas tersebut, dikarenakan lebih fokus untuk mengerjakan pesanan tas dalam jumlah banyak.  Dengan wajah kecewa, sang kakek pulang untuk tidak akan pernah datang kembali.

Setelah semua pembuatan tas selesai dan dia menerima upah yang lumayan, kembali lelaki tersebut ke pekerjaannya semula, memperbaiki tas yang rusak.  Entah kenapa, setelah dia menerima order yang besar, permintaan akan perbaikan tas menjadi menurun.  Padahal yang menopang agar dapur keluarganya bisa ngebul, yakni dari perbaikan tas, yang walau hasilnya tidak seberapa, bisa dikatakan cukup buat makan anak istri sehari – hari.

Dalam ketermenungannya, teringat dia akan wajah sang kakek yang minta diperbaiki tas cucunya.  Baru sadar dia, dia telah mengabaikan rezeki yang datang.  Merasa menyesal ketika sedang terpuruk, menzholimi orang yang membutuhkan bantuannya.

 

Mitra sejati, berapa banyak dari kita, dalam mencari rezeki yang halal, terkadang menganggap remeh rezeki kecil ketika mendapatkan rezeki besar. Pada waktu kita belum mendapat rezeki yang besar, kita selalu berdo’a minta di datangkan rezeki yang besar, ketika rezeki yang besar datang, rezeki yang kecil kita  tinggalkan.

Coba kita lihat sejenak ilustrasi di bawah ini, ketika kita menerima rezeki kecil dan kita bersyukur, sang rezeki kecil berkata “Wahai rezeki besar, engkau datanglah kepada bapak tukang tas tersebut, beri dia kegembiraan, karena dengan rezeki kecil seperti aku saja, dia bersyukur”.

Karena permintaan sang rezeki kecil, maka rezeki yang besar datang menghampiri.  Tetapi ketika teman rezeki kecil datang menghampiri si tukang tas, lalu oleh tukang tas tersebut di tolak, maka rezeki kecil tadi, melapor kepada temannya yang jadi rezeki besar. “Wahai temanku rezeki besar, karena saya di tolak oleh tukang tas tersebut, mohon engkau pergi jauh – jauh dari si tukang tas, karena rezeki kecil seperti aku ini saja dia tolak, apalagi engkau” tambahnya.

Jika sudah seperti itu kejadiannya, maka siap – siaplah sang tukang tas untuk tidak menerima rezeki besar lagi.

Kira – kira seperti itulah ilustrasi datangnya sebuah rezeki.

Mitra sejati, bahwasanya persoalan kematian, jodoh dan rezeki adalah misteri yang tidak pernah kita ketahui.  Tetapi lewat pengalaman dan panduan dari langit, kita bisa kategorisasikan menjadi tiga.  Mari kita bahas satu persatu kategorisasi rezeki itu :

1.    Rezeki Mutlaq

Rezeki ini diberikan kepada makhluk hidup di alam semesta.  Seperti kita ketahui, seekor burung yang terbang dalam keadaan lapar, lalu pulang sore hari dalam keadaan kenyang.  Seekor cicak di dinding, binatang darat yang merayap, makanannya adalah nyamuk, binatang bersayap yang bisa terbang.  Jika kita katakan tidak masuk akal, tetapi begitulah kenyataannya.  Apalagi manusia yang diberi akal dan budi oleh Allah SWT, tentunya untuk menjemput rezeki bukanlah hal yang terlalu sulit.

2.    Rezeki yang diusahakan

Jika rezeki pertama buat semua makhluk hidup di alam semesta, maka rezeki kedua, tentu tingkatannya lebih tinggi, yaitu kadar kuantitasnya.  Artinya makhluk yang berusaha atau berikhtiarnya lebih tinggi, tentulah akan mendapatkan rezeki yang lebih banyak ketimbang makhluk hidup lainnya.  Jika seekor burung pulang dalam keadaan kenyang, tentu berbeda, dengan seekor burung yang memiliki tanggung jawab harus memberi makan anak istrinya.  Jika seorang manusia memiliki kadar tanggung jawab yang besar, tentulah effort/usahanya harus lebih besar.  Seperti dalam pepatah Arab, manjaddah wajjadah, siapa yang berusaha dia akan mendapatkan apa  yang diusahakan.  Tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras dan antar golongan, seseorang yang berusaha lebih keras, tentulah mendapatkan hasil yang lebih baik.

3.    Rezeki dari tempat tidak terduga

Jika rezeki pertama dan rezeki kedua masuk dalam wilayah sosial, maka rezeki yang ketiga ini masuk wilayah spiritual.  Jika rezeki pertama dan rezeki kedua bermain dalam dataran mikro dan makro kosmos, maka rezeki ketiga ini masuk dalam dataran MAHA kosmos.  Pada rezeki yang ketiga ini, harus saya katakan, banyak muncul keajaiban – keajaiban yang di luar nalar logika manusia.

Beberapa contoh yang mungkin pernah kita alami, ketika kita membutuhkan uang buat biaya bersalin istri yang melahirkan secara caesar, ada seorang teman jauh, datang memberikan uangnya dengan ikhlash kepada kita.  Ketika kita butuh biaya masuk sekolah anak, ada seorang dermawan menginfakkan uangnya buat kita dan banyak contoh – contoh yang lainnnya.

Pertanyaannya, bagaimana mendatangkan rezeki dari tempat yang tidak terduga, selain dengan totalitas tawakal dan taqwa dengan di iringi usaha halal yang profesional.  Pancinglah rezeki dari tempat tidak terduga dengan membuat infrastrukturnya terlebih dahulu.  Jika kita ingin memiliki mobil, buatlah garasinya terlebih dahulu, persoalan kapan diberi mobilnya hanya Allah SWT yang tahu, yang penting kita sudah memiliki SIM A-nya, bisa mengendarai mobil dan mencari brosurnya.   Insya Allah keajaiban rezeki dari tempat tidak terduga akan terjadi.

Begitupun ketika kita bermimpi naik haji, buatlah pasportnya terlebih dahulu, siapakan infrastruktur diri, sudah layakkah kita di mata Allah SWT untuk memenuhi panggilannya? Jika sudah sia – siaplah menerima rezeki dari tempat tidak terduga.

Wallahu ‘alam bissawab

Salam PETIGA KEHIDUPAN!

www.p3kcheckup.com (Pembicara-Penulis-Pengembang Komunitas),

www.p3checkup.wordpress.com & di FB : petiga kehidupan

 

NB 1 : Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK dan BLOG Anda. Terima Kasih.

Info Buku :

1. 21 langkah menuju soul entrepreneur sejati, jalan menuju kaya 3 dimensi (Buku pertama dari 3logi P3K), P3K Check Up Publishing, Jakarta

2. 18 decision for soul theraphy (Seri buku kehidupan), P3K Check Up Publishing, Jakarta

Informasi produk dan pemesanan buku pada Petiga Karir dan bisnis sms center : 0815 1999 4916.

NB 2 : Alhamdulillah sejak Paket Buku sy dilaunching, kamis 23 Sept ’10, berdatangan pesanan dari dalam dan luar Jakarta. Terima kasih kepada rekan-rekan&Sahabat FB atas support materi, pikiran&Do’anya. Semoga mendapat kabarakahan hidup rekan-rekan&Sahabat FB sekalian. Utk info lebih lanjut silahkan utk sms ke 0815 1999 4916.Syukran www.p3kcheckup.com

 

Petiga Kehidupan Article Series,MENDAKI GUNUNG MASALAH

Motivasi

Petiga Kehidupan Article Series,MENDAKI GUNUNG MASALAH

By Hari ‘Soul’ Putra (Soul Motivator, CEO Sa’i Center & Praktisi P3K)

Sore itu Budi lagi uring – uringan di kantornya, waktu menjelang pulang kantor, dia masih duduk di kursi dalam ruang kerjanya.  Pikirannya menerawang tidak menentu, berbagai masalah campur aduk.  Pagi tadi dia mendapatkan telefone dari adiknya, yang mengabarkan dirinya telah di lamar oleh teman kuliahnya.  Antara bahagia bercampur haru dan resah, menelisik ruang sanubari Budi.

Bahagia, adiknya telah mendapatkan pasangan hidupnya, haru karena sebagai kakak dia bisa menunaikan kewajiban pesan terakhir ayahnya, sebelum beliau wafat.  Resah karena saat ini dia sendiri pun belum juga mendapatkan bidadari pujaan hatinya. Sebagai lelaki yang terbilang sukses untuk ukuran desanya, Budi disela – sela bekerjanya, menyempatkan untuk menikmati hidup seperti rekan – rekan sekantornya.  Sudah tidak terkira, berapa wanita yang sempat singgah di hatinya.  Tetapi belum ada satupun yang cocok dengan karakter dirinya.

Jika sekedar mencari pasangan, bukannya Budi mau menyombongkan diri, dengan titel yang disandangnya, dengan karir gemilang yang telah dia rintis selama 15 tahun berselang, banyak para camer (calon mertua) yang sudah siap untuk menjadikannya sang calon menantu idaman.  Tetapi entah kenapa, hatinya merasa ada yang kurang, sosok ideal yang dia dambakan belum juga dia temukan.

Pernah suatu hari, ketika dia sudah merasa cocok dengan wanita teman beda lantai satu apartemennya, si wanita malah sudah di lamar orang.  Hanya karena saat itu, dia sedang giat – giatnya meniti karir dibidang IT.

Semenjak itu, hidup Budi menjadi hambar, terasa ada yang kering.  Uangnya yang banyak, kasur empuk yang saban hari dia tiduri, tidak menjadikannya merasa bahagia, malah kalau boleh memilih, dia ingin seperti anak kecil lagi, polos, hidup tanpa masalah.

Benar kata pepatah, kita bisa membeli kasur empuk yang model apa pun ketika kita punya uang, tetapi kita tidak bisa membeli bagaimana rasa nyenyak tidur ketika kita terkena insomnia.

Tetapi hidup haruslah terus dijalani, apa pun resiko yang telah menghadang di depan sana.

Mitra sejati, alangkah banyak tipe manusia seperti Budi yang saban hari kita temui, apalagi di kota besar seperti Jakarta.  Alih – alih ingin semuanya tersedia dahulu, baru melaksanakan rencananya, tetapi malah sebaliknya, yang dia cari dan di kejar, belum tentu dapat, sementara yang seharusnya di tangan sudah terlepas.  Seperti Budi, seharusnya jangan menunggu punya segalanya dahulu baru memikirkan menikah, tetapi menikahlah maka semuanya (apa pun yang di cita – citakan, selagi masih berkeyakinan kepada Allah SWT), Insya Allah itu akan terpenuhi.

Sekarang kita bayangkan, perbandingan cukup ekstrim, ada rekan saya yang dahulunya kerja bangunan.  Sejak tamat sma dari daerah Batu Retno, Wonogiri dia merantau ke Jakarta.  Ketika berkesempatan silahtuhrahiim ke gubuknya, istilah yang dia pakai untuk menggambarkan rumah harapan yang dia bangun setelah menikah, dia berbagi cerita kepada saya.

Waktu pertama kali ke Jakarta, yang ada dipikirannya, hanya kerja dan kerja.  Kerja keras yang memang secara fisik dia lakukan, seperti tidak membawa hasil apa – apa.  Jika menurut perhitungannya, 10 tahun pun dia bekerja, upah harian atau pekanan yang kadang molor itu, tidak bakalan mencukupi biaya pernikahannya.  Boro – boro mau menghidupi anak istri, untuk menghidupi diri sendiri saja dia tidak jelas.

Berfikir seperti itu, di usianya yang ke 22, dia memberanikan diri untuk melamar gadis teman bermainnya waktu kecil.  Saat ini dia sudah berusia 32 tahun, memiliki 2 orang anak, dengan “gubuk” dan sepeda motor yang saban hari mengantarkannya bekerja di sebuah perusahaan IT terkenal di bilangan Jakarta Selatan.

Dari seorang buruh bangunan, walau hari ini tetap berhubungan dengan bangunan juga, hanya bedanya, dia mengawasi dan mementenance komplek gedung yang menjadi tanggung jawabnya sehari – hari.

Perlu waktu 2 tahun pertama hidup di Jakarta, dia dan istrinya pontang panting untuk bisa menyesuaikan diri dengan kondisi Jakarta yang serba cepat.  Jika ketika masih sendirian, tidak ada yang mengatur dan mengingatkan dirinya, dikarenakan tempat proyek yang sering pindah dan tempat penampungan buruh bangunan yang jauh dari layak, tetapi setelah dia punya istri, ritme hidupnya mulai berubah. Walau tetap dengan kondisi standar upah buruh tidak berubah, seperti ketika dia masih lajang, tetapi anehnya ada saja rezeki yang di bawa, hingga setelah hidup berumah tangga selama 10 tahun,

Kuncinya, kata dia menggarisbawahi tentang pernikahan, dia memiliki kesamaan pandangan, dengan membuat komitmen di awal nikahnya dengan isteri tercinta.

Disamping istri yang punya bekal keterampilan menjahit untuk bisa menopang ekonomi suaminya, maka kehidupan pasangan itu terasa lebih baik dan bermakna.

Ketika berbicara kepada saya, dalam dirinya, tidak ada kesan canggung dan minder, jika mengingat bahwa dulunya dia hanya buruh bangunan dari satu proyek ke proyek lainnya.

Gunung masalah

Memang saya ingin membandingkan sebuah kondisi dimana, faktor finansial, kedudukan, jabatan dan fisik tidak menjadikan seseorang untuk bisa berubah.  Jika pada kasus Budi, semua simbol – simbol kemewahan hidup ada pada dirinya dan dia belum berani memutuskan menikah, sementara pada diri sang buruh bangunan teman saya, justru keterpurukan & kekurangan menjadi kekuatan inti dirinya, meminjam istilah Habibie afsyah, sang ikon AYO MANDIRI, seorang internet marketer sukses dari Indonesia, yang sehari – harinya duduk di kursi roda.

Mitra sejati, ada 3 tipe orang ketika menghadapi masalah, menurut Paul G. Stolz,Phd dalam bukunya “Adversity Quotient”   sebuah tawaran kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk bisa sukses mengatasi kesulitan dan sanggup bertahan hidup.

Dia menganalogikan seperti ketika kita naik gunung, ada 3 model manusia disana :

1.    Quitters/penyerah, kelompok orang – orang yang berhenti diperjalanan model mudah menyerah dan putus asa.  Pesimis dalam melihat kehidupan

2.    Campers/pekemah, mereka yang mudah merasa puas dengan apa yang telah dicapainya, kurang menyukai tantangan, cenderung mencari situasi yang aman bagi dirinnya.  Orang – orang ini sering diistilahkan sebagai barisan status quo.  Barisan yang mencari kemapanan dan tidak siap mengalami perubahan akibat kenikmatan yang telah diperolehnya bertahun – tahun

3.    Climbers/pendaki, kelompok orang – orang yang mempunyai obsesi untuk maju, antusias dalam menghadapi setiap permasalahan, optimis dalam menatap masa depan.  Tidak mudah merasa puas, selalu menempatkan dirinya dalam jajaran  di atas rata – rata (non mediocre).  Mereka inilah yang oleh Profesor Maslow digolongkan orang yang telah mendapatkan aktualisasi diri.

Mari kita lihat satu per satu dari pendekatan SOsial – spiritUaL (soul), yang pertama : manusia tipe quitters, tipe manusia pembalik badan.  Ketika semua teman – teman dari kelompoknya sedang berjalan, dia perlahan – lahan meninggalkan barisan, karena merasa tidak siap untuk melanjutkan perjalanan.  Tipe pertama ini, adalah tipe yang disenangi oleh Iblis laknatullah wa syetan jahannam.  Orang – orang yang tidak mau menyelesaikan kehidupannya di dunia sesuai dengan kaidah – kaidah langit.

Sisi positif dari tipe manusia model ini, masih bisa di insyafkan dengan cara merepositioning, mengambil arah berbeda dari orang kebanyakan untuk mencari petunjuk jalan yang sebenar – benarnya, yang berpedoman pada Al Quran dan As Sunnah.  Memperbaiki diri selagi masih ada kesempatan, adalah ciri orang yang taubat, sebenar – benar taubat. Ketika sudah menemukan jalan lain yang benar, maka jalan itu harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan

Kedua, manusia tipe campers, tipe manusia jalan di tempat, tidak bergerak ke depan, tidak juga ke belakang.  Tipe manusia ini, terlalu asyik dengan masalah hingga lupa solusi.  Bahwa kita berkemah itu perlu untuk mengistirahatkan hati, fisik, pikiran, perasaan dan semangat kita.  orang – orang yang terlalu bersemangat juga tidak baik, karena akan memboroskan energi, sementara perjalanan masih panjang.

Sisi positifnya, manusia tipe ini bisa melakukan muhasabah, stop and thinking (berhenti dan berfikir) sejenak, untuk mengevaluasi, sejauh mana kita meninggalkan tempat asal kita hingga telah sampai di tengah – tengah gunung.  Sisi positifnya juga, kita bisa memberi tahu kepada orang yang baru mau mendaki atau yang telah kita temukan di jalan, sama seperti kita, untuk saling menguatkan, bahwa jangan memboroskan energi.  Karena semakin tinggi puncak gunung, maka semakin kuat halangan dan rintangan yang akan kita hadapi.

Adapun yang ketiga, tipe manusia yang sering disebut climbers, dimana manusia tipe ini melihat sebuah masalah sebentar saja dan mereka mengatasi masalah seakan – akan tanpa masalah.

Halangan dan rintangan yang muncul di perjalanan tidak menjadikan mereka berputus asa, karena mereka melihat puncak gunung lebih indah, ketimbang memikirkan nyamuk yang menggigit tubuhnya, ular yang menghadang atau binatang buas lain.  Karena sikap teguhnya yang tanpa kenal takut, membuat para binatang pengganggu segan untuk menghadangnya, bedakan dengan orang yang ketakutan ketika melihat binatang buas. Si climbers, tadi Insya Allah tidak akan tergoyahkan walau lautan api yang menghadangnya.

Setelah akhirnya sampai pada salah satu puncak  dari gunung masalah tersebut, mereka melihat ada keindahan yang sesungguhnya, yang menjadi obat penawar dari hari – hari menjalani pendakian.  Setelah puas, mereka terus mencoba untuk menapaki satu demi satu puncak untuk menemukan sumber kebahagiaan.  Karena mereka berkeyakinan, di setiap puncak yang di lewati, terasa kenikmatan yang sukar untuk divisualisasikan akan kemaha kekuasaan dan kemaha kemurahan Allah SWT.

Wallahu’alam bissawab

Salam PETIGA KEHIDUPAN!

www.p3kcheckup.com (Pembicara-Penulis-Pengembang Komunitas),

www.p3checkup.wordpress.com & di FB : petiga kehidupan

NB 1 : Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK dan BLOG Anda. Terima Kasih.

Info Buku :

1. 21 langkah menuju soul entrepreneur sejati, jalan menuju kaya 3 dimensi (Buku pertama dari 3logi P3K), P3K Check Up Publishing, Jakarta

2. 18 decision for soul theraphy (Seri buku kehidupan), P3K Check Up Publishing, Jakarta

Informasi produk dan pemesanan buku pada Petiga Karir dan bisnis sms center : 0815 1999 4916.

NB 2 : Alhamdulillah sejak Paket Buku sy dilaunching, kamis 23 Sept ’10, berdatangan pesanan dari dalam dan luar Jakarta. Terima kasih kepada rekan-rekan&Sahabat FB atas support materi, pikiran&Do’anya. Semoga mendapat kabarakahan hidup rekan-rekan&Sahabat FB sekalian. Utk info lebih lanjut silahkan utk sms ke 0815 1999 4916.Syukran www.p3kcheckup.com

Petiga Kehidupan Article Series, ANTARA BERLEBIHAN DAN PESONA KECANTIKAN ALAMI

Uncategorized

Petiga Kehidupan Article Series,ANTARA BERLEBIHAN DAN PESONA  KECANTIKAN ALAMI

By Hari ‘Soul’ Putra

(Soul Motivator, CEO Sa’i Center & Praktisi P3K)

Suatu siang di pekan keempat di bulan September, saya mendapat undangan dari seorang sahabat, yang saya anggap keluarga sendiri.  Sudah 5 tahun saya berkenalan dan berinteraksi dengan keluarganya.  Setiap shubuh dan maghrib, ketika tidak sedang memberi training dan melakukan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlash, biasanya kita kumpul mendengar tausiah dari imam masjid yang hafizh sambil sesekali saya ikut nimbrung memperlancar hapalan.  Terkadang beliau menggantikan, imam yang berhalangan, untuk daya ingat hapalan harus saya akui, beliau lebih utun (bahasa Jawa : persisten-pen) ketimbang saya.

Keluarga bapak ini berasal dari Jawa Bagian barat tetapi telah lama menetap di Depok.  Sehingga adat istiadatnya menyerupai orang asli Depok (Betawi).  Dalam kesehariannya kadang beliau meminta second opinion pada saya tentang soalan agama, pendidikan maupun bisnis.  Karena pekerjaan saya lebih banyak berinteraksi dengan manusia dari berbagai kalangan, maka referensi saya tentang soalan tersebut cukup banyak.  Artinya general knowledge yang saya punyai, cukup memadai untuk bisa saya share ke beliau.  Hanya mungkin dari pengalaman hidup dan perjalanan hidup, beliau tidak kalah dari orang – orang di sekitarnya.

Saya pun bukan ensiklopedi berjalan, tetapi saya punya orang yang jika saya bertanya, Insya Allah bisa menjawab dari sisi yang ingin saya tanyakan.  Misalnya ketika berbicara tentang masalah fiqih/hukum Islam tentang suatu perkara, saya memiliki pembimbing yang pernah belajar di Yaman, Hadramaut selama 14 tahun dan saat ini masih terus berkomunikasi dengan salah seorang Syaikh disana.

Hari Ahad itu, saya datang untuk menghadiri acara resepsi pernikahan anaknya yang pertama.  Di pintu masuk, tidak ada yang aneh pada penyambutan tamu, tetapi setelah bersalaman dengan beliau dan diikuti kelurganya, saya sekilas kaget, bukan apa – apa, anaknya yang perempuan, seperti asing dimata saya.  Jika si bapak dan istri serta besannya, berpakaian dan berpenampilan wajar, berbeda dengan anaknya.  Saya jadi ingat sinden/penyanyi yang sering menyanyi di kampung saya waktu kecil, dengan ginju tebal sekali, seperti pemain ketroprak aneka ria.   Seingat saya, si pengantin wanita adalah alumni fakultas kedokteran di Bandung.  Seorang akhwat yang ikut liqa/kajian rutin buat pendalaman tentang agama Islam.

Tetapi hari itu, saya melihat ada nuansa lain, yang saya tangkap, apakah saya yang terlalu over estimasi tentang jati diri seorang akhwat, ataukah itu semua tuntutan skenario dari sang sutradara, yakni ayah ibu atau dari pihak laki – laki.

Jika saya analisa sedikit, buat dari pihak laki – laki, sepertinya tidak mungkin, karena sang mempelai pria, pernah kuliah di LIPIA (sekolah Islam milik pemerintah kerajaan Arab Saudi di Indonesia), tetapi ketika melihat tempat jamuannya tidak terpisah antara laki – laki dan perempuan, maka kemungkinan ini hasil musyawarah antar kedua orang tua keluarga mereka.  Artinya, sang mempelai laki – laki dan mempelai wanita, mengikuti tradisi yang lazim dilakukan pada masyarakat setempat.

Sehingga muncul pertanyaan dari saya, apakah ilmu yang sudah 5 tahun mereka dapati (asumsi baru liqa/ikut kajian waktu kuliah), hilang percuma ataukah tanda bhakti seorang anak adalah menuruti kemauan orang tua semata.

Ketika tulisan ini saya buat, saya belum sempat mengkonfirmasikan kepada sang bapak, dikarenakan faktor kesibukan mengurus kerjaan saya.

Tetapi saya hanya ingin menganalisa dari sisi perempuannya saja.

INNER BEUTY VS OUTER BEAUTY

Sesuai dengan judul tulisan kali ini, antara berlebihan dan pesona kecantikan alami, seorang wanita, maka saya mendefinisikan kecantikan terdiri atas 2 hal :

1.    Kecantikan dari dalam (inner beauty)

2.    Kecantikan dari luar (outer beauty)

Kalau saya membandingkannya dengan kontes seperti puteri Indonesia, konon kabarnya menurut para juri, ada 3 hal yang menjadi parameter penilaian suatu kontes kecantikan, yaitu brain, beauty & behavior.

Artinya menurut mereka, parameternya terdiri atas kecerdasan, kecantikan fisik dan tingkah laku.  Saya tidak dalam kapasitas menilai perbandingan dengan kontes puteri Indonesia, ketika 3 macam model ini yang dicari, akhirnya tetaplah tampilan fisik yang menjadi parameter utama, baru kecerdasan dan tingkah laku.

Kembali ke soalan tadi, kecantikan dari dalam saya pahami sebagai sebuah proses pancaran alami dari diri seorang wanita.  Kecantikan ini biasanya ajeg dan tetap akan dilihat sebagai sebuah proses pendewasaan atas kharisma yang dipancarkan.

Dalam inner beauty ini, seorang akan semakin lama semakin menjadi magnet terhadap pasangan dan buah hatinya.  Sedangkan jika yang belum memiliki pasangan, tetap kelihatan anggun dan berwibawa walau usianya sudah tidak bisa dikatakan muda lagi.  Pesona ini ditopang atas hasil proses beragama yang benar, artinya makanannya hanya dari yang halal saja, perhiasannya tidak mencolok mata umum, kecuali buat sang pangeran pujaan.  Tutur katanya bermakna dan memberi bekas bagi yang mendengarnya, setiap kita memandang ada rasa segan untuk bersitatap dengan wajahnya dan lain – lain yang jika saya urai satu – satu, kemungkinan akan ada banyak yang berkonsultasi kepada saya nantinya J

Sementara kecantikan dari luar atau outer beauty, di bangun berlandaskan produk – produk dari mindset perusahaan lewat iklan – iklan yang gencar, sehingga masuk dalam alam bawah sadar audiensnya.  Jika persepsi kecantikan versi iklan, yakni tinggi, langsing, putih, kulit tidak berminyak dan sebagainya dengan berbagai testimoni dan model – model yang masih fresh.  Sementara secara tidak sadar, masyarakat kita terus dibohongi oleh kecantikan yang instan.  Jika saya analogikan, sebuah batu kali yang hitam akan tetap seperti itu walau ditempatkan dimanapun, berbeda dengan batu permata yang akan tetap bersinar, kendati terpendam lama dalam lumpur sekalipun.

Apakah masyarakat kita yang katanya intelek, tidak pernah menyadari, bahwa kecantikan instan tersebut merupakan, meminjan istilah Profesor Sarlito Wirawan dari UI, sebagai pseudo psikologi.  Psikologi semu, yang sengaja digembar – gemborkan seakan – akan ilmiah, padahal itu adalah racun yang akan merusak tubuh dari kaum wanita.

KASUS REVLON 1994

Belum lagi ekonomi biaya tinggi yang diterapkan oleh produsen pemanja tubuh wanita, berikut ini saya kutip komentar dari buku ide usaha kecil dan madya, usaha bersaing untuk wanita dan pemuda yang diterbitkan oleh Cakrawala Cinta, cetakan pertama tahun 1994.  Pada halaman 53, disebutkan apa jawaban Charles Revson (Chairman Revlon international saat itu) tatkala ditanyai wartawan – wartawan kenapa untuk lipstick yang praktis sama dengan merk – merk lainnya, Revlon (ultima) telah menjualnya dengan US$ 10 sementara merk lain dengan hanya US$ 2.00?

Revson balik bertanya kepada para wartawan : “Katakanlah Anda benar, dan Anda mengetahuinya.   Sekalipun begitu, lipstick manakah yang akan Anda beli tatkala Anda ingin menghadiahkannya kepada istri atau pacar Anda?

US$ 10 Revlon atau US$ 2 merk lain?

Nah itu pengakuan dari sang produsen sendiri yang berakal – akalan terhadap konsumennya dengan memanfaatkan gengsi mereka.

Katakanlah itu data yang sudah usang, ataupun sang perusahaan sudah merevisi produknya, tetapi spirit dari cerita itu adalah bahwasanya orang khususnya wanita lebih mudah tergoda dengan sebuah merk ketimbang sebuah benefit.  Dalam bahasa iklan hit, yang lebih mahal banyak, tetapi yang lebih memberikan manfaat adalah produk yang kita beli sesuai kebutuhan.

Kembali ke tema di atas, sikap berlebih – lebihan yang ditampakkan oleh anak sahabat saya itu, merupakan indikasi ketidakberdayaan atas sebuah hegemoni keluarga atau ketidakmampuan dari pihak pengantin untuk bersikap atas nama keluarga.

Relasi antara kehendak keluarga dan sikap ‘menurut’ ini, akan terus mentradisi seperti tradisi wisudanya para jilbaber, yang lebih mementingkan riasan make up nya ketika masuk waktu shalat, dengan alasan ini hanya dilanggar satu kali saja.

Semoga sikap berlebih – lebihan ini, dalam bahasa agama disebut tabarrujj, mesti dihilangkan untuk diganti kepada kesederhanaan yang nantinya tergantikan oleh pesona kecantikan alami yang muncul dari dalam diri si wanita idaman.

Wallahu’alam bissawab

Salam PETIGA KEHIDUPAN!

www.p3kcheckup.com (Pembicara-Penulis-Pengembang Komunitas),

www.p3checkup.wordpress.com & di FB : petiga kehidupan

NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK dan BLOG Anda. Terima Kasih.

Info Buku :

1. 21 langkah menuju soul entrepreneur sejati, jalan menuju kaya 3 dimensi (Buku pertama dari 3logi P3K), P3K Check Up Publishing, Jakarta

2. 18 decision for soul theraphy (Seri buku kehidupan), P3K Check Up Publishing, Jakarta

Informasi produk pada Petiga Karir dan bisnis sms center : 0815 1999 4916.

Petiga Kehidupan Article Series, PENOLAKAN DALAM kePEMBICARAan, kePENULISAN & PENGEMBANGan KOMUNITAS

Uncategorized

Petiga Kehidupan Article Series,

PENOLAKAN DALAM kePEMBICARAan, kePENULISAN & PENGEMBANGan KOMUNITAS

By Hari ‘Soul’ Putra

(Soul Motivator, CEO Sa’i Center & Praktisi P3K)

Lawan dari kata menolak adalah MENERIMA, berapa banyak hidup kita selalu menerima keadaan (Bahasa Jawa : nrimo-Pen), entah yang biasa – biasa karena tidak berdaya ataukah menerima karena harus kompromi oleh keadaan dan situasi tertentu.  Jika kita disuruh memilih, bekerja atau bersantai, maka pilihannya adalah bersantai. Bersantai merupakan suatu bentuk dari penerimaan diri kita terhadap sebuah kondisi.   Contoh lain, jika kita di suruh memilih, syurga apa neraka, pasti jawabannya, syurga.  Atau dalam bahasa pelatihan sering disebut, mencari nikmat dan menghindari sengsara.  Ini juga merupakan sebuah kondisi dikarenakan kita menerima sebuah bentuk kesadaran, yang disodorkan oleh seseorang atau sebuah pemahaman dalam sebuah komunitas.  Intinya, secara sadar dan tidak sadar, kita dipaksa untuk menerima dalam sebuah situasi dan kondisi tertentu.

Sekarang kebalikannya, sama – sama sebuah pilihan, hanya bedanya jika contoh tadi kita cenderung untuk menerima, sekarang apakah kita mau membantu orang, sedangkan kita sendiri kesusahan, dan apakah kita juga mau menginfakkan harta kita karena sebuah tuntutan agama, sementara kita sendiri kekurangan?  Disini yang terjadi, mayoritas dari diri kita akan membuat pagar resistensi diri, mungkin ada yang dengan senang hati membantu orang lain dikala kesusahan, mungkin juga ada yang dengan keikhlasannya berinfaq, tetapi kebanyakan kita akan sedikit ragu – ragu, biasanya hawa penolakan lebih kentara ketimbang menerima.  Hal ini disebabkan kita akan merasa kehilangan sesuatu dari diri kita, sesuatu yang kita sebut sebagai sebuah kepemilikan, tetapi pada kenyataannya itu hanya sebuah titipan.

HUKUM KESEIMBANGAN

Jika kita cenderung mendapatkan sesuatu, padahal sesuatu itu belum tentu kita dapatkan, kita akan dengan senang hati menerimanya, tetapi jika kita harus mengeluarkan sesuatu, biasanya timbul sifat keengganan dalam diri kita.  Dan masalah terbesar dari zaman ke zaman, hanya berkutat pada dua hal tersebut. Itulah yang sering disebut sebuah hukum keseimbangan.

Saya ambil sebuah contoh dalam panggung sejarah, dalam beberapa torehan sejarah para nabi atau rasul pembawa pesan dari langit, kendati diakhir perjalanan hidupnya menemui kebenaran, walau terkadang pahit, selalu ada saja orang – orang yang merasa kehilangan.  Seperti pada peristiwa Profesor Kejahatan, Abu Jahal, ditilik dari segi manapun entah kejujuran, keturunan, akhlaq hidup sehari – hari, kualitas diri, kecerdasan, kekayaan dan kewibawaan Insya Allah tidak ada perbuatan dan noda tercela yang bisa meruntuhkan kharisma dari Nabi Muhammad SAW, Sang utusan langit.  Tetapi dikarenakan merasa akan kehilangan sesuatu, maka berbagai cara dilakukan.  Dan ketika mentok, tidak ada yang bisa dipersalahkan, maka satu – satunya jalan, pembenar adalah dengan memberi branding atau cap kepada Nabi Muhammad SAW sebagai tukang sihir dan orang gila.

Ketika beberapa kabilah/suku mempertanyakan kenapa begitu bencinya Abu Jahal kepada Muhammad yang notabene adalah keponakannya sendiri, di jawab oleh Abu Jahal “Engkau tahu wahai para pemimpin kabilah, siapakah orang yang paling terpandang di jazirah Arab ini? Di jawab oleh para pemimpin kabilah “Engkau ya Abu Jahal,”

“Siapkah orang yang paling kaya di jazirah Arab ini? Kembali di jawab “Engkau ya Abu Jahal.”

Kembali bertanya Abu Jahal, “Siapakah orang yang memiliki kekuasaan di tanah Arab ini? Kembali para pemimpin kabilah menjawab, “Engkau ya Abu Jahal.”

“Itulah, engkau sudah tahu jawabnya sendiri, wahai para pemimpin kabilah”

Mitra sejati, saya tidak memperpanjang percakapan di atas, tetapi yang ingin saya sampaikan bagaimana mungkin seorang anak kemaren sore (Baca : Muhammad SAW) mau menggeser hegemoni dari seorang pemimpin dan sekeren Abu Jahal (dalam banyak riwayat disebutkan, Abu Jahal sangat menjaga wibawa dan pakaiannya-Pen).  Jadi masalahnya bukan sekedar kebagusan akhlaq seseorang yang membuat orang itu menjadi simpati, tetapi juga ruuh ketersinggungan akan sebuah harga diri, yang membuat orang menjadi gelap mata, tidak bisa menilai sesuatu dengan hati yang jernih.

Intisari dari pemaparan saya di atas, pada prinsipnya, belum tentu ketika kita sudah benar – benar memperbaiki diri, untuk menerima sebuah penghargaan, dan kita berharap orang lain menjadi seperti apa yang kita inginkan, mereka juga melaksanakan apa yang menjadi seharusnya.  Tetapi mungkin ada sebab lain, yang harus kita terima sebagai bagian dari KESEIMBANGAN.

KESEIMBANGAN AYAT NERAKA DAN AYAT SYURGA

Dalam berbagai bidang, termasuk penjualan tentunya, kata menerima lebih disenangi ketimbang kata penolakan.  Kata menerima sering lebih menancap dalam alam bawah sadar kita.  Kita selalu mencari kesamaan – kesamaan dan penerimaan – penerimaan, lihat saja dalam reuni sebuah sekolah, selalu yang dicari adalah orang – orang yang dikenal, entah karena kesamaan pandangan, hobi, bakat dan sebagainya.   Sementara perbedaan, penolakan selalu dihindari.  Jika hidup kita hanya mencari kesamaan – kesamaan, kapan kita menghargai perbedaan.  Ketika kita hanya meyakini hanya sebuah penerimaan, kapan kita siap mengalami penolakan.

Sudah sifatnya manusia cenderung berjalan pada rel yang bertemakan kesamaan, tetapi tahukah mitra sejati, bahwasanya, riset yang dilakukan oleh Rasyid Khalifah, salah seorang tokoh matematika Islam kontemporer, beliau menyebutkan “Jumlah ayat tentang neraka dan ayat tentang syurga sama persis.”  Jika ayat yang terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6236 ayat, maka setengahnya adalah ayat – ayat yang bercerita tentang neraka dalam berbagai perspektif dan setengahnya bercerita tentang syurga dalam berbagai perspektifnya pula.

Jadi tidak heran, ketika kita menerima kesamaan di suatu sudut bumi, maka di sudut bumi yang lain, terjadi perbedaan.  Ketika sebuah rumah tangga yang kelihatannya harmonis tanpa masalah, berarti sebenarnya dalam rumah tangga tersebut sedang terjadi masalah besar, sampai – sampai mereka tidak bisa mendefinisikan masalahnya dengan jelas dan teratur.

Kok masalah berhubungan dengan keteraturan?

Ketika masalah menumpuk – numpuk di gudang semesta, sebenarnya solusi – solusinya saat itu justru minta dikeluarkan oleh semesta sesuai tingkat dan kadar dari masalah tersebut.

Dalam kaitan antara masalah dengan penolakan, berarti adanya sebuah solusi yang bersinergi dengan penerimaan.  Dan tentunya, masalah – masalah tersebut perlu di urai, hingga menjadi kepingan – kepingan solusi secara jelas.

LEGENDARY DARE TO FAIL

Dalam berbagai pelatihan motivasi, contoh legenda kontemporer pembawa penolakan dalam hidupnya adalah sebagai berikut :

Pada usia 7 tahun diusir bersama keluarganya dari tanah milik mereka

Pada usia 9 tahun di tinggal mati oleh ibunya

Pada usia 22 tahun dipecat sebagai staf administrasi sebuah toko

Membutuhkan waktu 17 tahun untuk melunasi hutang – hutangnya

Pada usia 25 tahun di tinggal mati kekasih yang sangat dicintainya dan mengalami penolakan cinta pada kesempatan kedua

Di samping itu juga gagal sebagai anggota legislatif

Pada usia 29 – 31 tahun mencoba lagi menjadi anggota legislatif dan dua – duanya mengalami kegagalan

Pada usia 33 tahun mengalami penderitaan dalam perkawinannya

Pada usia 34 & 39 tahun mengalami kegagalan sebagai anggota kongres

Juga di tinggal mati anaknya yang berusia 4 dan 18 tahun

Pernah melamar ke US Land Office dan DI TOLAK

Pada usia 45 tahun kalah dalam pemilihan anggota senat

Pada usia 47 tahun kalah dalam pemilihan presiden

Tentu mitra sejati sangat paham dengan sejarah ini, beliau adalah Abraham Lincoln, yang di akhir hayatnya mati di bunuh, tetapi menjadi presiden paling masyhur sebagai presiden Amerika Serikat dalam usia ke – 51.

Satu kalimat yang paling popular dari beliau adalah “Tidak penting berapa kali Anda gagal, yang penting berapa kali Anda bangkit.”

Jika Abraham Loncoln, lebih banyak mengalami kegagalan sebagai seorang orator atau PEMBICARA.  Sekarang saya akan memberi contoh penolakan sebagai PENULIS, jika hari ini masih ada seorang penulis pemula yang mengalami penolakan dari sebuah penerbitan, apakah masih ada yang melebihi Robert Pirsig?  Jika waktu 6 tahun adalah singkat dalam menunggu diterbitkannya sebuah buku,masih banyakkah orang yang sanggup untuk mengalami 121 kali penolakan oleh para penerbit.

Isi bukunya tidak terlalu istimewa, hanya bercerita tentang naik motor dari Minnesota ke barat, belum terlalu spektakuler di banding petualang sejati dengan ransel birunya, Bang Gola Gong yang bisa kita simak dari buku Balada Si Roy (dahulu di terbitkan oleh Majalah Anita Cemerlang secara bersambung-Pen).

Tetapi daya tahan penolakan dan daya juang untuk bisa diterima oleh penerbit, bisa disejajarkan dengan Bang Gola Gong, yang hidup dalam dunia fiksi dan realita (baca : Menggenggang dunia Bukuku  Hatiku, Catatan Sang Avonturir yang diterbitkan oleh DAR Mizan-Pen).  Baru pada editor ke 122 oleh James Landis dari Penerbit William Morrow pada tahun 1974, bukunya diterbitkan dengan judul spekulasi “Zen and the art of motorcycle maintenance.”

Spektakulernya buku ini meledak dan menghasilkan 100.000 copy per tahun yang bertahan selama 20 tahun.  Subhanallah

Jadi kenapa kita harus kecewa dengan penolakan, bukankah sehari – hari kita sering di tolak dalam perspektif berbeda.  Ketika seorang ibu ingin anak gadisnya menikah dengan pria pilihan sang ibu, tetapi anaknya tidak menerima itu juga bagian dari penolakan.  Ketika seorang ayah ingin membeli kado istimewa kepada anaknya yang berulang tahun, kebetulan dia sedang tidak punya uang, dan anaknya cemberut, bukankah itu juga penolakan.  Ketika nanti di usia tua, kakek nenek yang ditinggal pergi anak – anak dan cucunya itu juga mekanisme penolakan oleh semesta.

Bukan berapa kali kita di tolak, tetapi berapa kali kita bangkit untuk menjadi pemenang untuk diterima di semesta dan mendapat ridho Allah SWT tentu, itu poin pentingnya, the real champion is not just a winning competition, but everyone who can stand up from every failure.

Akhirnya untuk contoh PENOLAKAN dalam bidang PENGEMBANG KOMUNITAS akan saya tulis dalam artikel – artikel berikutnya.  Tetap forek (fokus dan rileks) dalam membaca artikel dari saya dan mohon maaf jika kurang berkenan.

Wallahu’alam bissawab

Salam PETIGA KEHIDUPAN!

Http://www.p3kcheckup.com (Pembicara-Penulis-Pengembang Komunitas),

www.p3checkup.wordpress.com & di FB : petiga kehidupan

NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK dan BLOG Anda. Terima Kasih.

Info Buku :

1. 21 langkah menuju soul entrepreneur sejati, jalan menuju kaya 3 dimensi (Buku pertama dari 3logi P3K), P3K Check Up Publishing, Jakarta

2. 18 decision for soul theraphy (Seri buku kehidupan), P3K Check Up Publishing, Jakarta

Informasi produk pada Petiga Karir dan bisnis sms center : 0815 1999 4916.

Petiga Kehidupan Article Series, MEMBACA ULANG NOVEL KCB KANG ABIK

Uncategorized

Petiga Kehidupan Article Series,MEMBACA ULANG NOVEL KCB KANG ABIK

By Hari ‘Soul’ Putra (Soul Motivator, CEO Sa’i Center & Praktisi P3K)

Malam itu selepas maghrib, saya mampir di sebuah warung makan di bilangan Depok, kendati sudah suasana syawal atau lebaran, ketika melihat sebuah sinetron yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta, masih terpampang jelas, sinetron religi spesial ramadhan. Tak pelak, hati saya bergumam, “ Sudah kehilangan ruuhnya kah, daya magnet dari Kang Abik.”

Saya bukanlah penonton yang mengikuti secara estafet day by day sinetron tersebut, tetapi saya orang yang cukup menikmati beberapa versi atau varian dari karya tersebut.

Perkenalan dengan Kang Abik

Berawal dari perkenalan saya secara tidak langsung dengan penulisnya via miling list FLP (Forum Lingkar Pena).  Waktu itu saya bersama – sama dengan Galank Lufityanto, Kusmarwanti, Nurul F Huda dan teman – teman yang membidani lahirnya FLP cabang Yogyakarta di bulan agustus tahun 2000.  Dalam diskusi via milis tersebut, bisa dilihat karakter sejati seorang penulis lewat postingan – postingannya.  Ketika saya hijrah ke Bandung dan Jakarta dan sekarang menetap di Depok, interaksi dengan teman – teman FLP masih tetap terjalin, bahkan beberapa kali sempat sebagai tenaga yang diperbantukan dalam acara – acara FLP, kendati sekarang sudah tidak masuk dalam struktur kepengurusan.  Akan halnya Kang Abik dari Mesir dan kembali lagi ke Indonesia, dalam kepengurusan periode 2009 – 2013 M di dapuk sebagai Dewan Pertimbangan FLP Pusat, yang dikomandoi Mbak Izzatul Jannah (Setiawati Intan Savitri).

Sebagai seorang fenomenal dan profesional, walau bukan dari latar belakang kuliah di bidang sastra seperti Mbak Helvi Tiana Rosa (Founder FLP-Pen), beliau mempunyai semangat untuk memajukan negeri ini lewat karya – karyanya yang menggerak dan mencerahkan.

Dengan latar belang ilmu hadits yang dia kuasai, banyak kutipan – kutipannya yang bersandarkan pada Quran dan Hadits serta pendapat jumhur ‘ulama, menjadi ciri khas tersendiri, melanjutkan tradisi menulis ala sastra  propetik kontemporer yang digagas oleh Mbak Helvi di tahun 80 menjelang 90-an lewat wasilah Majalah Annida.

Terakhir kali saya bertemu beliau dalam sebuah diskusi yang diadakan Keluarga Muslim Citibank (KMC) di Plaza Bapindo Sudirman Jakarta ketika heboh – hebohnya Film Ayat – Ayat Cinta yang menjadi box office dalam waktu singkat.

Ketika membaca beberapa novel dan cerpennya yang segar dengan ide – ide baru, serasa menemukan oase dalam kepenatan hidup di kota besar seperti Jakarta.  Harus saya katakan, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan dari karya – karya beliau.  Kalau akhirnya saya harus mengomentari salah satu karyanya, lebih kepada sebuah pernyataan penghormatan atas kiprahnya selama ini.

Baik kita kembali ke topik semula, setelah menonton sinetron tersebut, saya membaca ulang novelnya.  Terbayang kembali, adegan – adegan versi layar lebarnya.  Ketika membaca profil narasi seorang Anna Althafunnisa yang terbayang adalah sosok Okki Septiana Dewi pun ketika membaca kisah tokoh Ayatul Husna, terdeskripsikan adalah bayangan Meyda Shafira sebagai pemerannya.  Juga ketika berbicara tentang KH Lutfi Hakim, yang muncul sosok khas naga bonar, Kang Haji Deddy Mizwar.

Bahkan ketika harus mengomentari KCB versi layar lebar, saya sempat hutang komentar kepada pemeran Nyai Nur, istri KH Lutfi Hakim yakni Bunda Meidiana Hutomo.

Komentar saya kepada beliau pada tanggal 18 September 2009 M, 2 hari setelah launching film KCB 2  “KCB 2 full Indonesia, nuansa Indonesia yang ingin ditonjolin Kang Abik sebagai seorang penulis bisa membuat perubahan peradaban lewat pena-nya untuk menuju derajat taqwa.   Cuma dari segi keindahan, saya harus katakan Mesir lebih menarik dari segi packaging/kemasan.  Efek melodramatic dan suspensenya KCB 2 lebih powerfull, apalagi pada sesion mengomentari “ Azzam lebih baik cara menyampaikan Kitab Al Hikamnya dari pak kyai” kata saya mengakhiri kalimat itu.

Di jawab oleh beliau, “Terima kasih komennya, he he he termasuk dialog nyai… “

Mitra sejati, ketika membaca ulang, kata demi kata yang dirangkai Kang Abik, serasa berbicara dan mendengarkan langsung tausiah – tausiahnya.   Saya kira, Kang Abik bukan hanya sebagai penulis an sich, tetapi juga seorang narator dan motivator lewat karya – karyanya.  Jika boleh saya sandingkan, beliau seperti Hirotada Ototake, motivator asal Jepang yang tidak memiliki tangan dan kaki (tetramelia) atau juga seperti rekan saya sesama trainer, Mas Eko Ramaditya Adipura, blind motivator (tunarungu), mereka sudah menggerakkan dan memotivasi orang sebelum dia sendiri berbicara.  Hanya bedanya, Kang Abik lewat pena dan gagasannya, sementara Oto chan, nama beliau waktu kecil, lewat aktivitas fisik yang membuat rintangan menjadi peluang dan Mas Eko lewat blog dan arransmen musiknya.

Bahkan saat ini, banyak profesi yang beliau tekuni, seperti penulis skenario, sutradara, pembicara publik, pemilik penerbitan dan entrepreneur.  Lewat karya fiksinya, dalam salah satu bedah novel KCB di Depok, bukan mengupas proses kreatifnya ketika menuliskan novel KCB, tetapi memotivasi masyarakat lewat semangat entrepreneur via tokoh Azzam.  Hal yang jarang terdengar dalam seminar – seminar berbau entrepreneurship.

Penutup, pebuah perbandingan motivatif

Ketika saya memutuskan berprofesi sebagai pengajar non formal dan penulis independen, setelah memutuskan keluar dari lingkaran karyawan di sebuah Bank Asing, tekad saya sudah bulat, berjuang sampai titik tertinggi.  Bukan hasil yang menjadi parameternya, tetapi proses yang saya jalani yang menjadi fokus saya. Jika hanya bicara hasil, hasil merupakan efek samping dari sebuah proses kerja profesional, janganlah kita seperti Tuhan yang serba tahu setiap kejadian masa depan,cukuplah punya mimpi yang dijalani dengan sepenuh hati, mencintai profesi kita dengan totalitas, dan menjadi jembatan berbagi kesuksesan pada masyarakat.

Saya yang masih dan Insya Allah akan terus belajar sebagai pengajar non formal, dalam bahasa profesinya sering di sebut trainer, yang mentransfer skillnya untuk membangun kepribadian manusia.  Ketika kepribadiannya dibangun, tinggal dia mentransformasikannya menjadi value added (nilai tambah) yang menjadi wasilah buat meningkatkan karir dan bisnisnya guna mendapatkan kesuksesan yang dia idam – idamkan.

Profesi sebagai trainer, yang notabene bagian dari ilmu psikologi, harusnya berlatar belakang keilmuan tersebut.  Tetapi yang saya lihat, banyak sekali para alumni fakultas psikologi entah level sarjana hingga doktor, bahkan bergelar profesor sekalipun belum mencerminkan cara – cara atau pendekatan motivatif dalam penyampaian materi – materinya, padahal mereka adalah orang – orang yang tahu tentang karakteristik psikologi manusia.  Sementara mereka yang bukan secara khusus mendalami studi keilmuan tersebut dengan latar belakang yang aneh – aneh, seperti saya misalnya yang lulusan fakultas teknik industri, menjadi lebih aware terhadap fenomena kebutuhan masyarakat saat ini.  Bahkan jika boleh saya katakan salah satu motivator terbaik yang pernah dilahirkan negeri ini adalah Ir Soekarno, terlepas positif dan negatif dari sisi kehidupannya.

Apa yang membuat para pengajar non formal atau trainer salah jurusan tadi bisa memahami fenomena yang berkembang, tidak lain mereka langsung belajar dari guru – guru kehidupan yang tersebar di muka bumi.  Mengolah inspirasi tersebut menjadi materi – materi sederhana, tanpa terlibat secara teknis dari sisi metodologi yang kerap kali menjadi beban dari para pegiat psikologi teoritis yang bercokol di kampus – kampus.

Yang tidak kalah pentingnya, mereka rata – rata memiliki mentor yang sudah sukses dalam dataran duniawi.  Entah berbagai simbol – simbol kemewahan atau simbol – simbol yang tidak kelihatan seperti dewasa secara kehidupan baik dewasa biologis, psikologis, sosiologis dan spiritual.

Dengan adanya para mentor inilah, jalan panjang nan berliku yang harusnya dia lewati, menjadi semakin mudah dilewati tanpa harus mengalami trial and error lagi, tetapi trial and learning, belajar dari kesalahan – kesalahan pendahulu – pendahulunya.

Yang sering saya katakan dalam pelatihan – pelatihan yang saya selenggarakan, ketika kita mencoba mendaki sebuah gunung, kita akan mencari jalan tercepat untuk sampai ke puncak gunung tersebut.  Alhasil bukan jalan tercepat yang kita dapatkan, tetapi seperti pencarian yang tidak berujung. Itu ibarat dunia yang luas, tanpa kita tahu ujungnya dan akan dimana berakhirnya kita nanti.  Ketika kita mencoba terus naik ke puncaknya, sementara bahan bakar dan logistik sudah habis, artinya nyawa kita sudah dipanggil oleh sang pencipta, saat itulah kita baru menyadari, sebuah kesia – sian telah kita lakukan.

Berbeda dengan orang yang sudah pernah sampai puncak gunung tersebut, ketika dia turun, dia membuat tangga – tangga secara jelas mulai dari lembah gunung hingga puncak gunung, kita tinggal menjalaninya secara sadar, bahwasanya ada orang yang telah sampai di puncak gunung tersebut.  Sehingga ketika kita dipanggilpun dalam sebuah perjalanan, kita tidak akan pernah menyesalinya, karena track/jalan yang telah kita lalui ini, sudah sesuai dengan panduan yang mentor tersebut pernah jalani.

Sama juga jika, analogi jalan tersebut adalah Islam dan sang mentor adalah Rasulullah Muhammad SAW yang sudah pernah menghadap RabbNya dan melihat langsung syurga dan neraka tempat kita kembali nantinya, kita tinggal mengikuti jalan yang beliau tempuh, tanpa harus seperti beliau, mencari sebuah pencerahan selama 5 tahun di Gua Hira.

Inilah yang saya maksudkan memahami esensi kehidupan dan tahu harus kemana hidup ini akan bergerak.

Sebagai penutup, karena sebuah perbandingan motivatif dan reflektif,  perjalanan seseorang jangan dilihat dari hasilnya tetapi lihatlah dari proses yang dilakukan, seperti Rasulullah SAW belum sempat melihat Imperium Romawi dan Persia jatuh ke tangan Islam dalam masa hidup beliau yang singkat.

Wallahu’alam bissawab

Salam PETIGA KEHIDUPAN!

Http://www.p3kcheckup.com (Pembicara-Penulis-Pengembang Komunitas),

www.p3checkup.wordpress.com & di FB : petiga kehidupan

NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK dan BLOG Anda. Terima Kasih.