Petiga Kehidupan Article Series,MENDAKI GUNUNG MASALAH

Motivasi

Petiga Kehidupan Article Series,MENDAKI GUNUNG MASALAH

By Hari ‘Soul’ Putra (Soul Motivator, CEO Sa’i Center & Praktisi P3K)

Sore itu Budi lagi uring – uringan di kantornya, waktu menjelang pulang kantor, dia masih duduk di kursi dalam ruang kerjanya.  Pikirannya menerawang tidak menentu, berbagai masalah campur aduk.  Pagi tadi dia mendapatkan telefone dari adiknya, yang mengabarkan dirinya telah di lamar oleh teman kuliahnya.  Antara bahagia bercampur haru dan resah, menelisik ruang sanubari Budi.

Bahagia, adiknya telah mendapatkan pasangan hidupnya, haru karena sebagai kakak dia bisa menunaikan kewajiban pesan terakhir ayahnya, sebelum beliau wafat.  Resah karena saat ini dia sendiri pun belum juga mendapatkan bidadari pujaan hatinya. Sebagai lelaki yang terbilang sukses untuk ukuran desanya, Budi disela – sela bekerjanya, menyempatkan untuk menikmati hidup seperti rekan – rekan sekantornya.  Sudah tidak terkira, berapa wanita yang sempat singgah di hatinya.  Tetapi belum ada satupun yang cocok dengan karakter dirinya.

Jika sekedar mencari pasangan, bukannya Budi mau menyombongkan diri, dengan titel yang disandangnya, dengan karir gemilang yang telah dia rintis selama 15 tahun berselang, banyak para camer (calon mertua) yang sudah siap untuk menjadikannya sang calon menantu idaman.  Tetapi entah kenapa, hatinya merasa ada yang kurang, sosok ideal yang dia dambakan belum juga dia temukan.

Pernah suatu hari, ketika dia sudah merasa cocok dengan wanita teman beda lantai satu apartemennya, si wanita malah sudah di lamar orang.  Hanya karena saat itu, dia sedang giat – giatnya meniti karir dibidang IT.

Semenjak itu, hidup Budi menjadi hambar, terasa ada yang kering.  Uangnya yang banyak, kasur empuk yang saban hari dia tiduri, tidak menjadikannya merasa bahagia, malah kalau boleh memilih, dia ingin seperti anak kecil lagi, polos, hidup tanpa masalah.

Benar kata pepatah, kita bisa membeli kasur empuk yang model apa pun ketika kita punya uang, tetapi kita tidak bisa membeli bagaimana rasa nyenyak tidur ketika kita terkena insomnia.

Tetapi hidup haruslah terus dijalani, apa pun resiko yang telah menghadang di depan sana.

Mitra sejati, alangkah banyak tipe manusia seperti Budi yang saban hari kita temui, apalagi di kota besar seperti Jakarta.  Alih – alih ingin semuanya tersedia dahulu, baru melaksanakan rencananya, tetapi malah sebaliknya, yang dia cari dan di kejar, belum tentu dapat, sementara yang seharusnya di tangan sudah terlepas.  Seperti Budi, seharusnya jangan menunggu punya segalanya dahulu baru memikirkan menikah, tetapi menikahlah maka semuanya (apa pun yang di cita – citakan, selagi masih berkeyakinan kepada Allah SWT), Insya Allah itu akan terpenuhi.

Sekarang kita bayangkan, perbandingan cukup ekstrim, ada rekan saya yang dahulunya kerja bangunan.  Sejak tamat sma dari daerah Batu Retno, Wonogiri dia merantau ke Jakarta.  Ketika berkesempatan silahtuhrahiim ke gubuknya, istilah yang dia pakai untuk menggambarkan rumah harapan yang dia bangun setelah menikah, dia berbagi cerita kepada saya.

Waktu pertama kali ke Jakarta, yang ada dipikirannya, hanya kerja dan kerja.  Kerja keras yang memang secara fisik dia lakukan, seperti tidak membawa hasil apa – apa.  Jika menurut perhitungannya, 10 tahun pun dia bekerja, upah harian atau pekanan yang kadang molor itu, tidak bakalan mencukupi biaya pernikahannya.  Boro – boro mau menghidupi anak istri, untuk menghidupi diri sendiri saja dia tidak jelas.

Berfikir seperti itu, di usianya yang ke 22, dia memberanikan diri untuk melamar gadis teman bermainnya waktu kecil.  Saat ini dia sudah berusia 32 tahun, memiliki 2 orang anak, dengan “gubuk” dan sepeda motor yang saban hari mengantarkannya bekerja di sebuah perusahaan IT terkenal di bilangan Jakarta Selatan.

Dari seorang buruh bangunan, walau hari ini tetap berhubungan dengan bangunan juga, hanya bedanya, dia mengawasi dan mementenance komplek gedung yang menjadi tanggung jawabnya sehari – hari.

Perlu waktu 2 tahun pertama hidup di Jakarta, dia dan istrinya pontang panting untuk bisa menyesuaikan diri dengan kondisi Jakarta yang serba cepat.  Jika ketika masih sendirian, tidak ada yang mengatur dan mengingatkan dirinya, dikarenakan tempat proyek yang sering pindah dan tempat penampungan buruh bangunan yang jauh dari layak, tetapi setelah dia punya istri, ritme hidupnya mulai berubah. Walau tetap dengan kondisi standar upah buruh tidak berubah, seperti ketika dia masih lajang, tetapi anehnya ada saja rezeki yang di bawa, hingga setelah hidup berumah tangga selama 10 tahun,

Kuncinya, kata dia menggarisbawahi tentang pernikahan, dia memiliki kesamaan pandangan, dengan membuat komitmen di awal nikahnya dengan isteri tercinta.

Disamping istri yang punya bekal keterampilan menjahit untuk bisa menopang ekonomi suaminya, maka kehidupan pasangan itu terasa lebih baik dan bermakna.

Ketika berbicara kepada saya, dalam dirinya, tidak ada kesan canggung dan minder, jika mengingat bahwa dulunya dia hanya buruh bangunan dari satu proyek ke proyek lainnya.

Gunung masalah

Memang saya ingin membandingkan sebuah kondisi dimana, faktor finansial, kedudukan, jabatan dan fisik tidak menjadikan seseorang untuk bisa berubah.  Jika pada kasus Budi, semua simbol – simbol kemewahan hidup ada pada dirinya dan dia belum berani memutuskan menikah, sementara pada diri sang buruh bangunan teman saya, justru keterpurukan & kekurangan menjadi kekuatan inti dirinya, meminjam istilah Habibie afsyah, sang ikon AYO MANDIRI, seorang internet marketer sukses dari Indonesia, yang sehari – harinya duduk di kursi roda.

Mitra sejati, ada 3 tipe orang ketika menghadapi masalah, menurut Paul G. Stolz,Phd dalam bukunya “Adversity Quotient”   sebuah tawaran kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk bisa sukses mengatasi kesulitan dan sanggup bertahan hidup.

Dia menganalogikan seperti ketika kita naik gunung, ada 3 model manusia disana :

1.    Quitters/penyerah, kelompok orang – orang yang berhenti diperjalanan model mudah menyerah dan putus asa.  Pesimis dalam melihat kehidupan

2.    Campers/pekemah, mereka yang mudah merasa puas dengan apa yang telah dicapainya, kurang menyukai tantangan, cenderung mencari situasi yang aman bagi dirinnya.  Orang – orang ini sering diistilahkan sebagai barisan status quo.  Barisan yang mencari kemapanan dan tidak siap mengalami perubahan akibat kenikmatan yang telah diperolehnya bertahun – tahun

3.    Climbers/pendaki, kelompok orang – orang yang mempunyai obsesi untuk maju, antusias dalam menghadapi setiap permasalahan, optimis dalam menatap masa depan.  Tidak mudah merasa puas, selalu menempatkan dirinya dalam jajaran  di atas rata – rata (non mediocre).  Mereka inilah yang oleh Profesor Maslow digolongkan orang yang telah mendapatkan aktualisasi diri.

Mari kita lihat satu per satu dari pendekatan SOsial – spiritUaL (soul), yang pertama : manusia tipe quitters, tipe manusia pembalik badan.  Ketika semua teman – teman dari kelompoknya sedang berjalan, dia perlahan – lahan meninggalkan barisan, karena merasa tidak siap untuk melanjutkan perjalanan.  Tipe pertama ini, adalah tipe yang disenangi oleh Iblis laknatullah wa syetan jahannam.  Orang – orang yang tidak mau menyelesaikan kehidupannya di dunia sesuai dengan kaidah – kaidah langit.

Sisi positif dari tipe manusia model ini, masih bisa di insyafkan dengan cara merepositioning, mengambil arah berbeda dari orang kebanyakan untuk mencari petunjuk jalan yang sebenar – benarnya, yang berpedoman pada Al Quran dan As Sunnah.  Memperbaiki diri selagi masih ada kesempatan, adalah ciri orang yang taubat, sebenar – benar taubat. Ketika sudah menemukan jalan lain yang benar, maka jalan itu harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan

Kedua, manusia tipe campers, tipe manusia jalan di tempat, tidak bergerak ke depan, tidak juga ke belakang.  Tipe manusia ini, terlalu asyik dengan masalah hingga lupa solusi.  Bahwa kita berkemah itu perlu untuk mengistirahatkan hati, fisik, pikiran, perasaan dan semangat kita.  orang – orang yang terlalu bersemangat juga tidak baik, karena akan memboroskan energi, sementara perjalanan masih panjang.

Sisi positifnya, manusia tipe ini bisa melakukan muhasabah, stop and thinking (berhenti dan berfikir) sejenak, untuk mengevaluasi, sejauh mana kita meninggalkan tempat asal kita hingga telah sampai di tengah – tengah gunung.  Sisi positifnya juga, kita bisa memberi tahu kepada orang yang baru mau mendaki atau yang telah kita temukan di jalan, sama seperti kita, untuk saling menguatkan, bahwa jangan memboroskan energi.  Karena semakin tinggi puncak gunung, maka semakin kuat halangan dan rintangan yang akan kita hadapi.

Adapun yang ketiga, tipe manusia yang sering disebut climbers, dimana manusia tipe ini melihat sebuah masalah sebentar saja dan mereka mengatasi masalah seakan – akan tanpa masalah.

Halangan dan rintangan yang muncul di perjalanan tidak menjadikan mereka berputus asa, karena mereka melihat puncak gunung lebih indah, ketimbang memikirkan nyamuk yang menggigit tubuhnya, ular yang menghadang atau binatang buas lain.  Karena sikap teguhnya yang tanpa kenal takut, membuat para binatang pengganggu segan untuk menghadangnya, bedakan dengan orang yang ketakutan ketika melihat binatang buas. Si climbers, tadi Insya Allah tidak akan tergoyahkan walau lautan api yang menghadangnya.

Setelah akhirnya sampai pada salah satu puncak  dari gunung masalah tersebut, mereka melihat ada keindahan yang sesungguhnya, yang menjadi obat penawar dari hari – hari menjalani pendakian.  Setelah puas, mereka terus mencoba untuk menapaki satu demi satu puncak untuk menemukan sumber kebahagiaan.  Karena mereka berkeyakinan, di setiap puncak yang di lewati, terasa kenikmatan yang sukar untuk divisualisasikan akan kemaha kekuasaan dan kemaha kemurahan Allah SWT.

Wallahu’alam bissawab

Salam PETIGA KEHIDUPAN!

www.p3kcheckup.com (Pembicara-Penulis-Pengembang Komunitas),

www.p3checkup.wordpress.com & di FB : petiga kehidupan

NB 1 : Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK dan BLOG Anda. Terima Kasih.

Info Buku :

1. 21 langkah menuju soul entrepreneur sejati, jalan menuju kaya 3 dimensi (Buku pertama dari 3logi P3K), P3K Check Up Publishing, Jakarta

2. 18 decision for soul theraphy (Seri buku kehidupan), P3K Check Up Publishing, Jakarta

Informasi produk dan pemesanan buku pada Petiga Karir dan bisnis sms center : 0815 1999 4916.

NB 2 : Alhamdulillah sejak Paket Buku sy dilaunching, kamis 23 Sept ’10, berdatangan pesanan dari dalam dan luar Jakarta. Terima kasih kepada rekan-rekan&Sahabat FB atas support materi, pikiran&Do’anya. Semoga mendapat kabarakahan hidup rekan-rekan&Sahabat FB sekalian. Utk info lebih lanjut silahkan utk sms ke 0815 1999 4916.Syukran www.p3kcheckup.com

Iklan